Tanam PADI ala SRI

 

(oleh: antimus lihan)

YKSPK (Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih) memulai pengembangan program pertanian ramah lingkungan dengan metode SRI sejak tahun 2011. Penerapan cara bertani padi metode SRI ini dilakukan bersama kelompok-kelompok petani padi sawah,  secara organik dan tentu saja ramah lingkungan. Sebagai lokasi ujicoba program adalah Dusun Pak Peleng, Desa Kayu Tanam, Kecamatan Mandor – Kabupaten Landak. Daerah ini dipilih karena sebagian besar warganya adalah petani padi sawah yang arealnya berada di sekitar pemukiman tempat mereka tinggal. Teknik bersawah yang mereka lakukan masih dengan cara biasa, yakni menanam bibit padi pada satu lobang tanam dalam jumlah yang banyak, menggunakan air yang sangat banyak dan jarak antar lobang tanam yang sangat rapat.

SRI adalah suatu metode budidaya padi, JADI bukan jenis bibit padi. Semua jenis bibit padi dapat ditanam dengan metode SRI. Metode SRI fokus pada pengelolaan tanaman, tanah, air dan pendayagunaan unsur hara. Metode ini terbukti telah berhasil meningkatkan produktifitas padi sebesar 50%, bahkan di beberapa tempat mencapai lebih dari 100%.

Metode SRI dikembangkan di Madagascar antara tahun 1983 – 1984 oleh Fr. Henri de Laulanié, S.J., seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Republik Madagascar adalah sebuah negara pulau di Samudra Hndia, lepas pesisir timur Afrika. Pulau Madagascar adalah pulau terbesar keempat di dunia.

Oleh penemunya, metododologi budidaya padi ini selanjutnya dalam bahasa Prancis dinamakan Ie Systme de Riziculture Intensive disingkat SRI dan dalam bahasa Inggris populer dengan nama System of Rice Intensification disingkat SRI. Dalam SRI (System of Rice Intensification), tanaman diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya, bukan diperlakukan seperti mesin yang dapat dimanipulasi. Semua unsur potensi dalam tanaman padi dikembangkan dengan cara memberikan kondisi yang sesuai dengan pertumbuhannya.  SRI bertumpu pada 5 hal pokok sebagai berikut :

    1. Menanam bibit muda yakni 5-15 hari setelah semai, ketika bibit masih berdaun 2 helai
    2. Menanam 1 bibit per lubang tanam
    3. Jarak tanam diatur dengan lebih lebar yakni 30 cm x 30 cm sampai 50 cm x 50 cm; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk tanam padi metode SRI ini adalah 35 cm x 35 cm atau 40 cm x 40 cm (menurut cerita pengalaman pendamping petani metode SRI asal NOSC-Nusantara Organic SRI Center – 2011)
    4. Manajemen pengairan yang super hemat, pemberian air maksimal 2 cm (macak-macak) dan periode tertentu dikeringkan sampai pecah (Irigasi berselang/terputus)
    5. Penyiangan sejak awal sekitar 10 hari dan diulang 2-3 kali dengan interval 10 hari.

Sedapat mungkin dalam budidaya padi metode SRI ini sebaiknya menggunakan pupuk organik (KOMPOS). Pupuk organik selain menyediakan unsur hara yang lengkap (makro dan mikro) juga memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, udara yang cukup bagi perakaran, dan meningkatkan daya ikat air tanah.

Kelebihan atau Manfaat Sistem SRI

Secara keseluruhan SRI memberikan hasil lebih baik, dalam arti lebih produktif (tanaman lebih tinggi, anakan lebih banyak, malai lebih panjang, dan bulir lebih berat), lebih sehat (tanaman lebih tahan hama dan Penyakit), lebih kuat (tanaman lebih tegar dan lebih tahan kekeringan), lebih menguntungkan (biaya produksi lebih rendah) dan memberikan resiko ekonomi yang lebih rendah.

Tingginya produktivitas padi sistem SRI antara lain karena budidaya padi metode SRI mengutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, sangat mendukung terhadap pemulihan kesehatan tanah dan kesehatan pengguna produknya. Pertanian organik pada prinsipnya menitikberatkan prinsip daur ulang hara melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa ke dalam tanah, dan konservasi air, mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional. Secara Rringkas, manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut :

    1. Hemat air (tidak digenang), Kebutuhan air hanya 20-30% dari kebutuhan air untuk cara konvensional
    2. Memulihkan kesehatan dan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah
    3. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli di lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang
    4. Membuka lapangan kerja dipedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani
    5. Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia
    6. Mewariskan tanah yang sehat untuk generasi mendatang

Praktek SRI di Kalimantan Barat

Teknik budidaya padi dengan metode SRI adalah untuk pertama kalinya dikembangkan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih di Kalimantan Barat. Metode ini mulai diujicobakan oleh Kelompok Tani Dusun Pak Peleng, Desa Kayu Tanam, Kecamatan Mandor – dan di Dusun Pakan, Desa Caong, Kecamatan Mempawah Hulu – Kalimantan Barat.

Tujuan pengembangan budidaya padi dengan SRI merupakan suatu usaha tani untuk menghemat penggunaan input seperti sistem benih, penggunaan air, pupuk kimia dan pestisida kimia melalui pemberdayaan petani dan kearifan lokal.

Karena baru pertama kali dan tentu saja para petani belum berpengalaman dalam menerapkan tanam padi metode SRI ini, maka YKSPK menghadirkan secara langsung 2 (dua) orang tenaga ahli SRI Organik dari NOSC (Nusantara Organik SRI Center) Jakarta. Kehadiran kedua orang ini juga sekaligus sebagai pendamping petani dalam mempelajari, memahami dan mempraktekkan bagaimana tanam padi metode SRI dilakukan. Mereka bekerja bersama masyarakat khususnya anggota kelompok tani selama lebih kurang 4 (empat) bulan mulai dari persiapan lahan, pembuatan pupuk organic, penanaman & pemeliharaan hingga panen.

Luas lahan demplot untuk ujicoba SRI organik yang dikerjakan secara bersama oleh anggota kelompok tani Kayu Tanam dan pendamping dari NOSC adalah 25 x 25 meter persegi. Selain di lahan demplot, petani anggota kelompok juga melakukan ujicoba metode SRI di lahan masing-masing.

Sebelum memulai praktek menanam padi metode SRI di lokasi sawah demplot maupun di lahan masing-masing, oleh pendamping, para petani diberi bekal ilmu pengetahuan bertani, khususnya ilmu SRI baik teori maupun praktek. Para petani juga diajari tentang ilmu tani organik, bagaimana membuat pupuk dan pestisida organik dari bahan-bahan yang tersedia di sekitar petani. Serta bagaimana cara penggunaan pupuk dan pestisida organik di lokasi tanam.

Belajar Metode SRI

Berikut ini adalah beberapa materi penerapan metode SRI yang diajarkan oleh para pendamping kepada para petani anggota kelompok tani SRI organik di Kayu Tanam

    1. Bibit dipindah di lapang (transplantasi) lebih awal

Bibit padi ditransplantasi saat dua daun telah muncul pada batang muda, biasanya saat berumur 8-15 hari. Benih harus disemai dalam petakan khusus dengan menjaga tanah tetap lembab dan tidak tergenang air. Saat transplantasi dari petak semaian, perlu kehati-hatian dan sebaiknya dengan memakai cethok, serta dijaga tetap lembab. Jangan bibit dibiarkan mengering. Sekam (sisa benih yang telah berkecambah) biarkan tetap menempel dengan akar tunas, karena memberikan energi yang penting bagi bibit muda. Bibit harus ditranplantasikan secepat mungkin setelah dipindahkan dari persemaian —sekitar ½ jam, bahkan lebih baik 15 menit.

Saat menanam bibit di lapangan, benamkan benih dalam posisi horisontal agar ujung-ujung akar tidak menghadap ke atas (ini terjadi bila bibit ditanam vertikal ke dalam tanah). Ujung akar membutuhkan keleluasaan untuk tumbuh ke bawah. Tranplantasi saat bibit masih muda secara hati-hati dapat mengurangi guncangan dan meningkatkan kemampuan tanaman dalam memproduksi batang dan akar selama tahap pertumbuhan vegetatif. Bulir padi dapat muncul pada malai (misalnya “kuping” bulir terbentuk di atas cabang, yang dihasilkan oleh batang yang subur). Lebih banyak batang yang muncul dalam satu rumpun, dan dengan metode SRI, lebih banyak bulir padi yang dihasilkan oleh malai.

Dalam metode SRI kebutuhan benih jauh lebih sedikit dibandingkan metode tradisional, salah satu evaluasi SRI menunjukkan bahwa kebutuhan benih hanya 7 kg/ha, dibanding dengan metode tradisional yang mencapai 107 kg/ha. Belum lagi hasil panen yang diperoleh berlipat ganda karena setiap tanaman memproduksi lebih banyak padi.

    1. Bibit ditanam satu-satu daripada secara berumpun

Bibit ditranplantasi satu-satu daripada secara berumpun, yang terdiri dari dua atau tiga tanaman. Ini dimaksudkan agar tanaman memiliki ruang untuk menyebar dan memperdalam perakaran. Sehingga tanaman tidak bersaing terlalu ketat untuk memperoleh ruang tumbuh, cahaya, atau nutrisi dalam tanah. Sistem perakaran menjadi sangat berbeda saat tanaman ditanam satu-satu.

    1. Jarak tanam yang lebar

Dibandingkan dengan baris yang sempit, bibit lebih baik ditanam dalam pola luasan yang cukup lebar dari segala arah. Biasanya jarak minimalnya adalah 25 cm x 25 cm. Sebaiknya petani berani mencoba berbagai jarak tanam dalam berbagai variasi, karena jarak tanam yang optimum (yang mampu menghasilkan rumpun subur tertinggi per m2 tergantung kepada struktur, nutrisi, suhu, kelembaban dan kondisi tanah yang lain. Pada prinsipnya tanaman harus mendapat ruang cukup untuk tumbuh. Hasil panen maksimum diperoleh pada sawah subur dengan jarak tanam 50 x 50 cm, sehingga hanya 4 tanaman per m2.

Untuk membuat jarak tanam yang tepat (untuk memudahkan pendangiran), petani dapat meletakkan tongkat-tongkat dipinggir sawah, lalu diantaranya diikatkan tali melintas sawah. Tali harus diberi tanda interval yang sama, sehingga dapat menanam dalam pola segi empat. Dengan jarak tanam yang lebar ini, memberi kemungkinan lebih besar kepada akar untuk tumbuh leluasa, tanaman juga akan menyerap lebih banyak sinar matahari, udara dan nutrisi. Hasilnya akar dan batang akan tumbuh lebih baik. Pola segi empat juga memberi kemudahan untuk pendangiran.

    1. Kondisi tanah tetap lembab tapi tidak tergenang air

Secara tradisional penanaman padi biasanya selalu digenangi air. Memang benar, bahwa padi mampu bertahan dalam air yang tergenang. Namun, sebenarnya air yang menggenang membuat sawah menjadi hypoxic (kekurangan oksigen) bagi akar dan tidak ideal untuk pertumbuhan. Akar padi akan mengalami penurunan bila sawah digenangi air, hingga mencapai ¾ total akar saat tanaman mencapai masa berbunga. Saat itu akar mengalami die back (akar hidup tapi bagian atas mati). Keadaan ini disebut juga “senescence”, yang merupakan proses alami, tapi menunjukkan tanaman sulit bernafas, sehingga menghambat fungsi dan pertumbuhan tanaman.

Dengan SRI, petani hanya memakai kurang dari ½ kebutuhan air pada sistem tradisional yang biasa menggenangi tanaman padi. Tanah cukup dijaga tetap lembab selama tahap vegetatif, untuk memungkinkan lebih banyak oksigen bagi pertumbuhan akar. Sesekali (mungkin seminggu sekali) tanah harus dikeringkan sampai retak. Ini dimaksudkan agar oksigen dari udara mampu masuk kedalam tanah dan mendorong akar untuk “mencari” air. Sebaliknya, jika sawah terus digenangi, akar akan sulit tumbuh dan menyebar, serta kekurangan oksigen untuk dapat tumbuh subur.

Kondisi tidak tergenang, yang dikombinasi dengan pendangiran mekanis, akan menghasilkan lebih banyak udara masuk kedalam tanah dan akar berkembang lebih besar sehingga dapat menyerap nutrisi lebih banyak. Pada sawah yang tergenang air, di akar padi akan terbentuk kantung udara (aerenchyma) yang berfungsi untuk menyalurkan oksigen. Selain itu, penggenangan air paling baik dilakukan pada sore hari (bila pada hari itu tidak hujan), sehingga air yang berada di permukaan mulai mengering keesokan harinya.

Perlakuan ini membuat sawah mampu untuk menyerap udara dan tetap hangat sepanjang hari; sebaliknya sawah yang digenangi air justru akan memantulkan kembali radiasi matahari yang berguna, dan hanya menyerap sedikit panas yang diperlukan dalam pertumbuhan tanaman. Dengan SRI, kondisi tak tergenangi hanya dipertahankan selama pertumbuhan vegetatif. Selanjutnya, setelah pembungaan, sawah digenangi air 1-3 cm seperti yang diterapkan di praktek tradisional. Petak sawah diairi secara tuntas mulai 25 hari sebelum panen.

    1. Pendangiran

Pendangiran atau merumput (membersihkan gulma dan rumput) dapat dilakukan dengan tangan atau alat sederhana. Pendangiran ini membutuhkan banyak tenaga —bisa mencapai 25 hari kerja untuk 1 ha— tapi hal ini tidak sia-sia karena hasil panen yang diperoleh sangat tinggi. Pendangiran pertama dilakukan 10 atau 12 hari setelah tranplantasi, dan pendangiran kedua setelah 14 hari. Minimal disarankan 2-3 kali pendangiran, namun jika ditambah sekali atau dua kali lagi akan mampu meningkatkan hasil hingga satu atau dua ton per ha. Yang lebih penting dari praktek ini bukan sekedar untuk membersihkan gulma, tetapi pengadukan tanah ini dapat memperbaiki struktur dan meningkatkan aerasi tanah.

    1. Asupan Organik

Dalam pengembangan tanam padi metode SRI, petani sangat disarankan untuk menggunakan kompos, dan ternyata hasilnya lebih bagus. Kompos dapat dibuat dari macam-macam sisa tanaman (seperti jerami, serasah tanaman, dan bahan dari tanaman lainnya), dengan tambahan pupuk kandang bila ada. Daun pisang bisa menambah unsur potasium, daun-daun tanaman kacang-kacangan dapat menambah unsur N, dan tanaman lain.  Kompos menambah nutrisi tanah secara perlahan-lahan dan dapat memperbaiki struktur tanah.

Panen Perdana SRI Organik

Setelah Panen perdana SRI Organik di Kayu Tanam dilaksanakan tanggal 19 September 2011. Dihadiri pejabat Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Landak, Pengurus dan staf pendamping dari Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih. Seluruh anggota kelompok tani juga hadir untuk melakukan panen bersama. Sebelum panen padi dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan upacara adat. Bagi orang Dayak, upacara adat merupakan keharusan untuk dilaksanakan sebagai sikap doa, hormat dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kemurahan rezeki, kebaikan dan kasih-Nya kepada manusia.

Hasil panen pada demplot pembelajaran seluas 25×25 m2 itu adalah 350 kg padi kering giling. Dengan hasil tersebut dapat diperhitungkan bahwa kalau 1 hektar lahan ditanam padi dengan metode SRI organik, maka akan menghasilkan paling kurang 5 ton (5.000 kg) padi per hektar.

Hasil Panen yang Meningkat .

Panen padi yang ditanam dengan metode tanam SRI juga dilaksanakan di tempat lain, derah dampingan YKSPK untuk praktek pengembangan SRI Organik di Dusun Pakan, Desa Caong, Kecamatan Mempawah Hulu-Kabupaten Landak. Panen di dilaksanakan pada Rabu, 3 April 2013 di lahan milik Pak Apat (Pak Eri). Pak Apat adalah anggota Kelompok Tani Nanga Rapih yang difasilitasi YKSPK sejak tahun 2012.

Program tanam padi metode SRI ini selain mendapat dukungan dari Caritas Australia juga didukung oleh Petugas Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak dan PT Sang Hyang Seri berupa bantuan saprodi dan pelatihan teknik budidaya padi.

Kelompok ini beranggotakan 12 keluarga petani. Semua anggota kelompok ikut aleatn (bergotong-royong) mulai dari pengolahan lahan hingga panen. Saat panen di lahan Pak Apat, pembagian kerja sudah berjalan sebagaimana mestinya. Ibu-ibu dan beberapa orang bapak bertugas memanen padi menggunakan arit. Hasil panen diangkut ke lokasi perontokan oleh beberapa orang bapak. Perontokan padi sudah menggunakan mesin yang disewa dari salah seorang warga kampong. Sebagian bapak yang lainnya bertugas mengoperasikan mesin perontok sekaligus memasukan padi yang sudah bersih ke dalam karung-karung berkapsitas 50 kilogram. Dua orang bapak lagi bertugas sebagai tukang masak, menyediakan makan dan minuman buat  teman-teman anggota kelompok yang sedang bekerja.

Tahun ini Pak Apat cukup beruntung, karena hasil panennya meningkat dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 72 karung atau sekitar 3,6 ton berhasil ia kumpulkan.  Untuk konsumsi keluarga ia sisihkan ½ ton, cukup buat makan 3-4 bulan saja karena beberapa bulan berikutnya direncanakan sudah panen lagi. Di kampong ini panen sudah dilaksanakan 2 kali setahun. Sejumlah 3 ton lainnya ia jual kepada pengumpul yang sudah menunggu di kampungnya. Harga jual padi Rp. 3.000,- per kilogram, sehingga uang yang diperoleh Pak Apat sebesar 3.000 kg x Rp.3.000,- atau Rp. 9.000.000,-. Potong biaya modal yang terdiri dari pupuk dan obat-obatan sebesar Rp. 2.000.000,- sehingga hasil bersih yang Pak Apat terima dari hasil penjualan padi tahun ini sebesar Rp. 7.000.000,-

Ternyata tidak hanya Pak Apat yang beruntung. Hampir semua anggota kelompok Tani Nanga Rapih mendapat hasil panen padi yang cukup tahun ini. Mereka pantas bersyukur karena pada panen tahun ini hasilnya meningkat dibanding tahun sebelumnya. Seperti dialami Pak Markus, ketua Kelompok Tani Nanga Rapih, Ia memperoleh padi 2,6 ton, meningkat 1 ton dibanding tahun sebelumnya pada lahan yang sama seluas ¼ hektar. Demikian juga dengan anggota kelompok tani yang lainnya, seperti Pak Pery 1,2 ton, Pak Bens 3 ton, Pak Anton 3,6 ton dan Pak Ansel, 1,5 ton. Padi hasil panen sebagian mereka jual untuk membayar pinjaman modal dan membeli keperluan rumah tangga yang lainnya, serta membayar uang sekolah anak. Sebagian dari hasil panen mereka gunakan untuk memenuhi konsumsi keluarga, sehingga mereka tidak perlu membeli beras lagi atau menerima bantuan beras dari pemerintah dalam bentuk bantuan Beras Untuk Orang Miskin (RASKIN)……ditulis medio April 2013.

Merawat Air Mengelola Kehidupan

(oleh : antimus lihan)

Air penting bagi kehidupan semua makhluk di bumi ini. Manfaatnya menjangkau ke setiap makhluk hidup dan lingkungan di sekitar. Dalam kehidupan sehari hari, air digunakan sebagai air minum, memasak makanan dan kebutuhan MCK. Untuk masyarakat banyak, air digunakan sebagai sumber penghasil listrik dan pengairan ladang pertanian.

ungai, danau, daerah perbukitan atau air hujan. Ketersediaan air pada sumber-sumber tersebut sangat tergantung dengan kondisi alam dan lingkungan sekitar. Jika alam berdinamika, bergejolak dan lingkungan sekitar rusak, maka akan mempengaruhi kondisi air. Sumber air bisa menjadi kotor, tercemar hingga mengalami penurunan volume. Agar air tetap baik untuk dimanfaatkan, maka tanggungjawab kita selaku pengguna air adalah dengan terus-menerus menjaga dan memelihara lingkungan di mana sumber air tersebut berada.

Untuk memanfaatkan sumber air yang ada di sekitar pemukiman masyarakat, utamanya untuk air minum, memasak makanan, MCK dan pertanian biasa dilakukan dengan cara sederhana saja. Untuk air minum, memasak makanan misalnya, kita bisa langsung pergi ke sungai  atau danau mengambil air menggunakan ember, buluh bambu dan wadah lainnya untuk tempat menyimpan air. Bisa juga memanfaatkan air hujan dengan menyediakan wadah penampungnya berupa tempayan, baskom, drum/tong air, ember dan alat penampung air lainnya.

Jika hendak mengakses air yang berada di dalam tanah, maka cara yang biasa dilakukan adalah dengan menggali tanah menggunakan cangkul, penggali besi atau penggali berbahan kayu untuk dijadikan sumur. Jika sumber air sangat jauh dari permukaan tanah, maka digunakan alat yang bernama bor. Berapa dalam proses pengeboran sangat tergantung jarak sumber air di dalam tanah tersebut. Bisa belasan meter bahkan hingga kedalaman puluhan meter baru sampai ke sumber air di dalam tanah tersebut. Sumur yang digali dengan menggunakan bor ini dinamai atau dikenal dengan istilah sumur bor.

Sedangkan untuk mengakses air sungai yang jauh dari perkampungan dimana sungai tersebut berada di daerah perbukitan, maka cara yang biasa dilakukan masyarakat adalah dengan mengalirkan air tersebut ke pemukiman di kampung menggunakan buluh-buluh bambu atau pipa-pipa paralon. Melalui cara ini maka air menjadi semakin dekat dengan penduduk. Masyarakat bisa langsung mengalirkan air menggunakan pipa-pipa tersebut ke rumah-rumah di kamung penduduk atau ditampung terlebih dahulu dalam sebuah wadah penampungan air. Dari wadah penampungan tersebut masyarakat bisa mengambilnya menggunakan ember atau dialirkan menggunakan pipa-pipa peralon ke dalam rumah masing-masing warga kampung.

Namun dari kondisi tersebut di atas, tidak semua daerah atau kampung memiliki sumber air bersih yang memadai dan mudah diakses. Ada daerah-daerah yang sumber airnya tercemar oleh limbah pabrik, pertanian dan perkebunan. Bahkan akhir-akhir ini pencemaran air oleh perusahaan perkebunan dan pertambangan semakin memprihatinkan. Sungai-sungai semakin kotor akibat lumpur limbah tambang yang pengerjaannya dilakukan tanpa mengikuti prosedur dan standard pertambangan yang benar. Sungai-sungai semakin dangkal dan bahkan hilang sama sekali akibat digusur perusahaan perkebunan utamanya perkebunan sawit dan pertambangan. Akibatnya masyarakat sangat kesulitan memperoleh air bersih.

Kesulitan air bersih terutama sangat dirasakan langsung oleh kaum perempuan utamanya ibu-ibu rumah tangga. Mereka hari-harinya hampir tak pernah luput dari persoalan air. Mulai dari penyediaan air minum keluarga, memasak, mencuci pakaian, MCK, membersihkan rumah hingga keperluan untuk menyiram tanaman pertanian dan bunga-bunga tanaman hias.

YKSPK bantu masyarakat mengakses air bersih

Dalam rangka mempermudah masyarakat terutama kaum perempuan dan kelompok rentan dalam mengakses air bersih, Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) melalui divisi Pendidikan Kritis (PENTIS) pada tahun 2006-2013 telah membantu masyarakat beberapa kampung di Kalimantan Barat untuk mengakses air bersih. Adapun ampung-kampung di Kalimantan Barat yang difasilitasi YKSPK untuk mendapatkan bantuan dan akses air bersih sejak tahun 2006 adalah : (1) Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya yakni kampung : Cang Kiri, Pancaroba Sunge, Sangkuk, Re’es, Lintang Batang, Teluk Lais, Banuah dan Kijang Berantai. (2). Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak yakni kampung : Kayu Tanam dan Pak Peleng. (3). Kecamatan Mempawah Hulu yakni Kampung : Doak, Bambuk, Soalam, Pakan dan Palanjo.

Di beberapa lokasi kampung yang didampingi tersebut memiliki beragam kesulitan dalam mengakses air bersih. Ada lokasi-lokasi kampung seperti di daerah Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya yang tidak bisa mengakses sumber air dari dalam tanah dan sungai, mereka hanya bisa memanfaatkan air hujan. Untuk kondisi ini, YKSPK membantu penyediaan sarana air bersih bagi masyarakat berupa pemberian tong-tong air yang terbuat dari fiber dan pembuatan bak-bak besar penampung air yang menggunakan bahan dari campuran semen, pasir dan batu.

Untuk lokasi-lokasi yang memiliki sumber air dalam tanah, maka YKSPK membantu masyarakat dengan cara membuatkan sumur-sumur bor. Lokasi yang berkarakteristik seperti ini terdapat di daerah Kayu Tanam, Pak Peleng Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak. YKSPK selain membantu masyarakat mengebor tanah untuk sumur, juga memberikan bantuan peralatan berupa mesin pompa air listrik dan tong-tong penampung air yang berbahan fiber. Mesin pompa listrik merupakan paket bantuan pembuatan sumur bor yang diberikan kepada masyarakat di Kayu Tanam dan Pak Peleng.                           

Kampung Palanjo mengakses air bersih                                                                                                

Kampung Palanjo, Desa Caong berada di Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten Landak. Di kampung ini terdapat 70 kepala keluarga dengan jumlah penduduk lebih kurang 400 jiwa. Sebelum membantu masyarakat di Kampung Pelanjo, YKSPK  juga sudah memfasilitasi pengadaan sarana air bersih untuk beberapa kampung lainnya di wilayah Kabupaten Landak, yakni di Kampung Doak, Bambuk, Soalam, Pakan dan Kayu Tanam.

Di Kampung Palanjo, sumber air bersih adalah sungai yang bagian hulunya berada di kawasan bukit Pak Epak. Jarak bukit Pak Epak dari kampung kira-kira 2 kilometer. Berikut adalah proses pengerjaan awal pembangunan sarana pipanisasi air bersih di Kampung Palanjo

Hari itu Jumat, 10 Mei 2013 kira-kira jam 2 siang (14.00), puluhan orang bapak-bapak dan ibu dari Kampung Palanjo bersiap-siap menuju salah satu bukit di ujung kampung yakni Bukit Pa’Epak. Bukit yang dituju jauhnya kira-kira 2.000 meter dari kampong, masih hutan belantara. Masyarakat sengaja membiarkan pepohonan dan berbagai jenis tanam tumbuh yang terdapat di dalamnya tetap utuh dan tumbuh subur. Mereka tetap merawatnya dan menolak segala bentuk perusahaan yang mau masuk, merusak dan menguasai sumber daya alamnya.

Di kaki bukit itu terdapat sebuah sungai dengan air yang jernih. Di bagian dasar sungai terdapat bebatuan dan pasir yang memungkinkan air tetap bersih alami. Rencananya, masyarakat akan membuat bendungan dan memanfaatkan air sungai tersebut untuk dialirkan ke Kampung Palanjo guna memenuhi keperluan air bersih warga kampong yang berjumlah 400-an jiwa. Sudah disepakati bersama masyarakat bahwa YKSPK bertanggungjawab untuk pengadaan material sarana air bersih (SAB) berupa paralon, semen, besi, dll. Sedangkan masyarakat akan menyediakan pasir, batu dan tenaga untuk bekerja secara gotong-royong membangun SAB tersebut

Memulai  Pembangunan SAB Palanjo 

Pada siang itu tibalah saatnya warga Kampung Pelanjo baik laki-laki maupun  perempuan dan Tim dari YKPSK yakni Adrio (teknisi), Wina dan Antimus bersama-sama berangkat menuju lokasi sumber air bersih. Perjalanan memakan waktu kira-kira 45 menit jalan kaki. Kami berjalan menyusuri jalan setapak, cukup licin karena sebelumnya ada hujan. Kelompok bapak-bapak ada yang memikul semen, paralon, menyeret besi cor, membawa peralatan kerja tukang serta mengambil pasair dan batu yang ada di sungai tersebut untuk bahan campuran semen. Sedangkan kaum ibu, ada yang membawa ember untuk tempat membawa pasir serta peralatan minum kopi dan teh.

Setibanya di lokasi, masyarakat mulai melaksanakan tugasnya masing-masing. Semua orang bekerja tanpa paksaan. Ada yang membersihkan lingkungan sekitar lokasi bendungan, ada yang mengambil batu dan pasir yang ada di sungai, ada yang membendung air menggunakan terpal. Intinya semua orang terlibat bekerja. Atas saran teknis oleh Adrio, staf Pentis Pancur Kasih, pengerjaan bendungan pun dilaksanakan. Bapak-bapak ada yang mengerjakan papan mal, ada yang memotong-motong besi cor dan yang lainnya mengaduk semen. Bagian mencari batu dan pasir dilakukan oleh ibu-ibu.

Pekerjaan membuat bendungan berakhir hingga jam 17.00 (jam 5 sore). Kami kemudian pulang ke kampung, berjalan kaki seperti semula dengan perasaan lega. Penyelesaian bendungan akan dilakukan hari Selasa depan. Karena sesuai kesepakatan bahwa waktu pelaksanaan kerja gotong-royong membangun SAB adalah setiap hari Selasa dan Jum’at. Direncanakan Juni 2013, pembangunan fasilitas air bersih sudah selesai dikerjakan.

Selama ini masyarakat Pelanjo menggunakan air sungai dekat kampong untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-harinya. Air dari sungai tersebut mereka alirkan ke rumah masing-masing menggunakan batang bambu. Kebutuhan keluarga akan air tercukupi, namun sayangnya daya tahan bambu sangat terbatas, 3-4 bulan kemudian bambu-bambu tersebut harus diganti, sangat merepotkan. Belum lagi airnya yang mudah tercemar akibat hewan ternak yang masih berkeliaran, limbah rumah tangga dan pencemaran oleh aktivitas pertanian, terutama pertanian yang menggunakan bahan-bahan kimia.

Guna mengatasi persoalan air bersih tersebut, masyarakat Pelanjo bersepakat membangun sarana air bersih di kampungnya. Mereka mau kerja bakti, menyiapkan material sarana air bersih (SAB) seperti batu dan pasir. Pengerjaan bangunan bendungan, penggalian saluran pipa dan pemasangan pipa serta pengerjaan bak pembagi dilakukan secara bergotong-royong atau secara berkelompok dengan jam kerja menyesuaikan aktivitas keseharian warga masyarakat.

Pengerjaan sarana air bersih secara bergotong-royong ini juga dimaksudkan agar masyarakat tidak menganggap kegiatan ini sebagai pekerjaan proyek semata. Tetapi dengan berpartisipasi baik dalam hal kerja maupun konstribusi dalam penyediaan bahan-bahan material, masyarakat diharapkan semakin bertanggungjawab atas bangunan yang mereka buat sendiri.

Untuk memastikan kerja gotong-royong pembangunan Sarana Air Bersih berjalan sesuai rencana, maka warga masyarakat Kampung Pelanjo sepekat membentuk kepanitiaan. Struktur kepanitiaan dan nama-nama warga yang masuk di dalam Panitia Pembangunan Sara Air Bersih tersebut adalah : Ketua: Pincus; Sekretaris: Sumiati; Bendahara: Elisabeth; Pengerah Massa: Joni dengan anggota-anggota: Lipsin (Pulai Patah); Filipus (Rangkong) dan Anus (Ne’ Mago).

Masyarakat juga bersepakat akan menjaga kelestarian sumber air bersih dengan tidak menebang pohon-pohon atau tanam tumbuh dan tidak membuat ladang di daerah sekitarnya. Sementara untuk teknis pengerjaan bendungan, pemasangan pipi-pipa paralon dalam tanah, pembangunan bak pembagi dan pendistribusiannya ke rumah-rumah penduduk akan diawasi secara langsung oleh tim PENTIS – Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih.

Lokasi sumber air bersih Kampung Pelanjo yang mau dibangun sarana air bersih ini berada di sekitar Bukit Pak Epak, Padarang dan Pajamuran. Bukit-bukit tersebut merupakan kawasan Hutan Lindung Masyarakat Adat yang senantiasa mereka jaga dan lestrikan. Jaraknya dari kampung lebih kurang 2.000 meter. Atas permintaan dan inisiatif warga masyarakat, YKSPK memberikan bantuan  material berupa semen, paralon, besi-besi cor dan bahan lain yang tidak tersedia di kampong, serta pendampingan teknis pengerjaan pipanisasi.

Akses Air Bersih dengan Sistem Bak Pembagi

Untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat dan keberlanjutan pemakaian sarana air bersih, maka pembagian air ke rumah-rumah warga menggunakan Sistem Bak Pembagi. Sistem ini didapat dari hasil studi banding Antimus dan Adrio di daerah Pandeglang, BantenKemudian oleh Adrio, tenaga teknis dari program pembuatan sarana air bersih DIVISI PENTIS-YKSPK, sistem bak pembagi ini dipraktekkan di kampung-kampung dampingan dalam rangka mempermudah masyarakat mengakses air bersih secara adil dan berkelanjutan.

Melalui sistem ini (bak pembagi), sumber air sungai yang bagian hulunya terletak di daerah perbukitan terlebih dahulu dibendung. Proses pembangunan bendungan dikerjakan oleh masyarakat secara bergotong-royong dengan pendampingan teknis oleh tim YKSPK. Pengerjaan bendungan memerlukan waktu 3-4 hari agar adonan semen bercampur pasir dan batu benar-benar kering. Setelah dipastikan konstruksi bendungan benar-benar kering dan kuat serta dinding-dinding bendungan yang terbuat dari adonan semen tersebut sudah mengering, maka air sungai boleh dialirkan ke dalam bendungan tersebut.

Setelah bendungan terisi penuh air dan dipastikan tidak ada lagi rembesan air di dasar dan bagian tepi bendungan, barulah kemudian airnya dialirkan melalui pipa/paralon yang sudah ditanam didalam tanah ke bak-bak pembagi yang sudah dibangun oleh masyarakat secara bergotong-royong. Setelah sampai di bak pembagi barulah air dialirkan ke rumah-rumah warga menggunakan paralon ukuran tertentu dengan volume air yang sama untuk setiap rumah.

Jumlah paralon yang dipasang pada tiap-tiap bak pembagi sangat tergantung dengan jumlah rumah warga yang akan dialiri air. Di Kampung Palanjo ada ada empat bak pembagi yang dibangun sesuai dengan pembagian kelompok rumah waraga. Masing2 bak pembagi dipasang titik-titik paralon antara 10-20 buah sesuai dengan jumlah rumah warga pada titik bak pembagi yang disepakati. Dari titik-titik paralon yang disediakan tersebut, masing-masing rumah mempersiapkan paralon dan menyambungkannya pada titik yang sudah disediakan itu. Air yang dialirkan ke tiap-tiap rumah penduduk diatur sedemikian rupa agar agar volume air bersih yang diterima sama untuk setiap rumah. Hal ini untuk menjaga keadilan dan keberlanjutan dalam pemanfaatan air bersih.

Ada beberapa buah bak pembagi yang dibangun. Bak-bak tersebut diletakkan di beberapa titik terdekat dengan kelompok rumah-rumah warga. Jumlah bak pembagi juga sangat tergantung dengan jumlah rumah penduduk pada sebuah kampung.

Memanen buah kerjasama (14 Agustus 2013)

Setelah kurang lebih tiga bulan (Mei-Agustus 2013) masyarakat Kampung Palanjo bergotong-royong, bekerja membangun sarana air bersih, akhirnya proses pembangunan itu dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan. Tepat pada tanggal 14 Agustus 2013, Sarana Air Bersih Kampung Palanjo dinyatakan telah selesai pengerjaannya dan air bersih sudah dapat dinikmati masyarakat. Ada sekitar 400 jiwa dari 70 kepala keluarga di Kampung Palanjo pada hari itu sudah dapat mengakses dan menikmati air bersih yang berasal dari daerah perbukitan Pak Efak.

Secara resmi penyerahan sarana air bersih dan penggunaanya dilakukan langsung oleh Ketua Yasayan Karya Sosial Pancur Kasih, Ansilla Twiseda Mecer. Pada saat penyerahan dan peresmian sarana air bersih tersebut selain dihadiri oleh warga masyarakat Kampung Palanjo, Kampung Pakan dan amasyarakat sekitarnya juga turut dihadir Ketua DPRD Kabupaten Landak, Camat Kecamatan Mempawah Hulu, Kepala Desa Caong beserta para pejabat dari kecamatan dan perangkat Desa.

Di hadapan masyarakat Kampung Palanjo, para undangan berseta rombongan yang hadir, Ketua YKSPK berpesan kepada masyarakat agar senantiasa warga masyarakat selalu menjaga, merawat sarana air bersih yang sudah dibangun dengan kerjasama, gotong-royong dan penuh kekompakan itu. Dan hendaknya air bersih yang sudah bisa dialirkan langsung ke rumah-rumah warga itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan seadil adilnya untuk kehidupan dan keselamatan.

(Antimus Lihan 2021)

Pertemuan Perempuan Adat Kalimantan

 

 

Twiseda Mecer selaku Ketua Pengurus lembaga YKSPK, yang juga Insiator dari Pusat Pendidikan dan Advokasi Perempuan Adat Kalimantan, sekaligus penggerak Program Sekolah Perempuan Adat menyampaikan secara singkat perjalanan pendampingan perempuan adat selama kurang lebih 12 tahun terakhir. Tema dari seminar ini dipilih juga sejalan dengan kerja-kerja pendampingan yang sudah dilakukan oleh YKSPK selama ini. Sejak pendampingan dan pemberdayaan perempuan adat melalui Koperasi Simpan Pinjam Perempuan, Program Sekolah Perempuan Adat maupun kegiatan pemberdayaan secara kolaborasi bersama Mitra CSO yang sudah dimulai sejak tahun 2010 sampai dengan saat ini, sudah ada kurang lebih 700 an perempuan adat yang difasilitasi. Perempuan Adat dibangun kesadaran kritisnya, mendapat penguatan dan pengetahuan terkait hak-hak perempuan, membangun kepercayaan diri akan pengetahuan lokal yang mereka miliki khususnya dalam pengelolaan hutan dan wilayahnya secara adil dan berkelanjutan.
Melalui berbagai program pemberdayaan Perempuan Adat, mulai muncul para kader pemimpin perempuan adat di berbagai komunitas yang telah difasilitasi. Yang tak pernah dilibatkan dan didengar suaranya, mulai banyak terlibat dalam kegiatan public di tingkat komunitas atau desa. Selain itu ada kurang lebih 19 organisasi lokal yang telah terbentuk dan mesti didampingi sehingga mereka siap dan mandiri dalam pengelolaannya. Harapan kedepannya adalah adanya kerja bersama antara pemerintah sebagai pihak regulator, CSO –CSO lainnya untuk bisa terus memberikan ruang bagi para perempuan adat tetap bersuara, berdaya baik bagi keluarga, komunitasnya atau pun bagi masyarakat secara keseluruhan, demikian Twiseda menutup sharing pengalamannya.

#SeminarPerempuanAdatKalimantanYKSPK22
#JaringanPerempuanAdatKalimantan
#yayasankaryasosialpancurkasih
#pusatpendidikandanadvokasiperempuanadatkalimantan
#thelfsaynifimi2
#sekolahperempuanadatykspk
#indigenouswomenschoolykspk
#KEPUAK

Seminar

SEMINAR

“Peran Perempuan Adat Dalam Pengelolaan Hutan Dan Lahan Secara Adil Serta Berkelanjutan Sebagai Upaya Adaptasi Dan Mitigasi Perubahan Iklim”.

Perempuan adat menjalankan peran yang paling dominan dalam pengelolaan sumber daya di seluruh komunitas adat di Kalimantan. Namun fakta yang terjadi, perempuan justru merupakan pihak yang tidak pernah dilibatkan dalam berbagai bentuk pengambilan keputusan yang berkenaan dengan pengelolaan wilayah adat di banyak komunitas adat. Budaya patriarki yang terjadi sejak lama di masyarakat menjadi salah satu faktor situasi ini terjadi. Padahal di tengah situasi dunia yang berhadapan dengan terjadinya perubahan iklim, justru perempuan dengan pengetahuan lokalnya yang terbukti mampu beradaptasi sekaligus melakukan upaya pencegahan.

Itu sebabnya, Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) meletakkan fokus dan secara intensif melakukan pendampingan pada perempuan adat yang tersebar di enam kabupaten yang ada di Kalimantan Barat.

Untuk meningkatkan kapasitas perempuan adat dan mendekatkan mereka dengan kebijakan publik yang akan berdampak terhadap kehidupan mereka, YKSPK melakukan seminar yang mengangkat tema  “Peran Perempuan Adat Dalam Pengelolaan Hutan Dan Lahan Secara Adil Serta Berkelanjutan Sebagai Upaya Adaptasi Dan Mitigasi Perubahan Iklim”. Seminar ini diselenggarakan dalam momen Pertemuan Perempuan Adat Kalimantan pada tanggal 2 – 3 Desember 2022 yang lalu. Kegiatan yang mendatangkan kurang lebih 25 perempuan adat yang berasal dari perwakilan 12 komunitas adat dari 7 Kabupaten (Sanggau, Melawi, Sintang, Ketapang, Landak dan Bengkayang, dan Sekadau).

Sebanyak 6 (enam) narasumber dihadirkan dalam kegiatan ini meliputi 3  orang perwakilan perempuan yaitu 1) Ibu Emilia (Perempuan Adat Komunitas Iban Sebaruk Kab. Sanggau) berbicara tentang “Pengalaman Advokasi Buruh Perempuan Menyuarakan Hak-Hak nya sebagai Dampak dari Sekolah Perempuan Adat”, 2) Ibu Lianti (Perempuan Adat Komunitas Krio Kab. Ketapang) bicara tentang “Pemanfaatan Hasil Hutan Non Kayu melalui Organisasi Lokal Perempuan Adat Dayakng Senta”, Ibu Zainab (Perempuan Adat Komunitas Tae Kab. Sanggau) bicata tentang “Geliat Organisasi Lokal yang dibentuk oleh Program Sekolah Perempuan Adat di Desa Tae untuk Mendorong Kesejahteraan Masyarakat Adat di Lingkar Bukit Tiong Kandang ; 4) Ibu Ansilla Twiseda Mecer (Ketua Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih sekaligus penggagas dan Penanggungjawab Sekolah Perempuan Adat) bicara tentang  “Pengalaman Pendampingan dan Advokasi Perempuan Adat melalui strategi Kolaborasi CSO dan Sekolah Perempuan Adat pada Enam Kabupaten di Kalimantan Barat” ; perwakilan dari pemerintahan yaitu 5) Ibu Zharifah Eliyana, S.Hut, M.Md, Ahli muda (Sub. Koordinator Bidang Rehabilitasi Pemberdayaan Masyarakat Dinas  Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat) bicara tentang “Implementasi Kebijakan Sektor Kehutanan Dalam Mendorong Pelibatan Perempuan  Sebagai Upaya Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim”, dan 6) Ibu Detelda Yeny (Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalimantan Barat) bicara tentang “Peran Pemerintah Dalam Mendukung CSO Mendorong Pemenuhan Hak atas Pendidikan Perempuan Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan di Komunitas Adat”. Adapun sebagai moderator dalam kegiatan ini adalah Ibu Eva Carolina.

Ditambahkan juga dalam intisari semianr ini yang disampaikan oleh Ibu Trifornia Erny (Direktur Lembaga Bela Banua Talino), yang juga merupakan salah satu fasilitator Sekolah Perempuan Adat, bahwa sebagaimana yang telah disampaikan oleh pihak yang mewakili pemerintahan di atas, bahwa ada peluang bagi Perempuan Adat yang sudah terorganisir dalam Organisasi Lokal untuk masuk dalam Tata Kelola Hutan melalui Skema Perhutanan Sosial, khususnya di Kalimantan Barat ini.

Seminar ini sendiri dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada perempuan adat yang telah didampingi oleh Pusat Pendidikan Perempuan Adat sebagai salah satu unit kerja yang sedang berkembang di YKSPK. Unit ini didirikan secara khusus untuk melakukan pemberdayaan terhadap perempuan adat di Kalimantan. Kurang lebih 700 orang perempuan adat yang berhasil difasilitasi melalui program, baik yang dilakukan secara langsung maupun kolaborasi dengan lembaga mitra. Lembaga yang melakukan kolaborasi bersama YKSPK dalam pendampingan terhadap perempuan adat antara lain Institut Dayakologi (Sanggau dan Ketapang), Perkumpulan Pengelolaan Sumber Daya Alam – PPSDAK (Ketapang), Lembaga Bela Banua Talino (Melawi), CU Filosofi Petani Pancur Kasih (Sanggau, Bengkayang, Melawi, Landak), CU Canaga Antutn (Ketapang), Gerakan Aliansi Masyarakat Adat Laman – Canaga Antutn (Ketapang), dan Walhi Kalimantan Barat (Sintang dan Bengkayang).

Sebagaimana disampaikan oleh Ansilla Twiseda Mecer dalam pernyataan penutupnya “Terhadap kelompok perempuan adat, yang memiliki kontribusi terbesar dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, melalui praktek pengetahuan yang mereka miliki selama ini, maka berikan ruang akses dan kontrol kepada perempuan, sehingga mereka mampu menunjukkan potensi yang mereka miliki untuk mendorong kemandirian dan meningkatkan kesejateraan perempuan, keluarga dan komunitasnya. Semoga bentuk pemberdayaan yang sudah dilakukan ini dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak orang diluar akan pentingnya memberikan peluang dan kesempatan kepada perempuan, khususnya perempuan adat yang selama ini tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang layak. Bahwa pendidikan yang layak juga didapat melalui berbagai pengalaman kehidupan perempuan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, berbagai pengetahuan lokal yang perempuan miliki terkait dengan aktivitasnya di alam dapat diapresiasi oleh banyak orang, sehingga perempuan adat tidak dipandang sebelah mata, bahwa perempuan adat juga sama berharganya dengan semua manusia sebagai ciptaan Tuhan, sebagai citra Tuhan.

Peringatan pesta pelindung sekolah hari Santo Fransiskus Asisi 2023

Peringatan pesta pelindung sekolah hari Santo Fransiskus Asisi di lingkungan persekolahan santo Fransiskus Asisi Pontianak diisi dengan beberapa kegiatan yakni, kuis tentang santo Fransiskus Asisi, lomba melukis gambar santo Fransiskus Asisi yang diawali dengan olahraga bersama para guru dan staf serta seluru peserta didik dan di tutup dengan misa syukur di gereja Stella Maris paroki Siantan pada tanggal 04 Oktober 2023.