Category: Uncategorized
Perayaan Imlek PSFA 2026


Perayaan Natal dan Tahun Baru PSFA 2026
Perayaan Natal dan Tahun Baru di Persekolahan Santo Fransiskus Asisi Pontianak

Pada hari Jumat, 9 Januari 2026, keluarga besar Persekolahan Santo Fransiskus Asisi (PSFA) Pontianak, yang berada di bawah naungan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih, merayakan Natal dan Tahun Baru bersama dalam suasana penuh sukacita dan kebersamaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi, pengurus yayasan, guru, serta staf PSFA. Perayaan Ekaristi dilaksanakan di Gereja Katolik Stella Maris, Paroki Siantan, dan dipimpin oleh Pastor Yopi Paulus, MSC.
Usai perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan di basement persekolahan dengan berbagai penampilan seni dari para siswa SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan sukacita. Kehadiran Santa Klaus turut memeriahkan suasana dan membawa keceriaan bagi seluruh peserta. Sebagai puncak acara, dilaksanakan kegiatan tukar kado antar siswa yang semakin mempererat kebersamaan.
Melalui perayaan ini, PSFA berharap seluruh warga sekolah semakin meneladani semangat kesederhanaan dan kasih, serta terus menghadirkan damai dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Raya Santo Fransiskus Asisi di PSFA Pontianak 2025

Setiap tanggal 4 Oktober, umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Raya Santo Fransiskus Asisi (Franciscan Day), mengenang teladan hidup Santo Fransiskus — pelindung hewan, lingkungan, dan kaum miskin.
Persekolahan Santo Fransiskus Asisi (PSFA) Pontianak yang berada di bawah naungan semangat Fransiskan turut mengambil bagian dalam perayaan ini dengan berbagai kegiatan rohani dan edukatif.
Kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi Kudus yang diikuti oleh seluruh siswa-siswi, guru, dan staf PSFA. Setelah itu, dilaksanakan Rekoleksi Guru dan Staf bertema “Panggilan Menjadi Guru” yang dipimpin oleh Pastor Elenterius Bon, SVD, bertempat di Aula St. Agustinus, Gereja Stella Maris Siantan.
Selain itu, diadakan juga Rekoleksi Seni dan Spiritualitas SFA dengan tema “Membuka Mata Terhadap Kebaikan Tuhan”. Rekoleksi yang diikuti oleh perwakilan siswa dan aktivis muda YKSPK ini membahas topik tentang profil Santo Fransiskus Asisi dan warisannya di bidang seni, 7 Nilai Pancur Kasih dalam Spiritualitas SFA, workshop musik Silotuang serta apresiasi penampilan seni dari tim GSMS-PSFA, Sanggar Asisi Batuah, serta Tim FLS3N SMP dan SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak.
Melalui perayaan ini, PSFA berharap seluruh warga sekolah semakin meneladani semangat kesederhanaan, kasih, dan kepedulian Santo Fransiskus Asisi, serta terus menghadirkan damai dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
RAT KSP Babane Tahun Buku 2023
“MEMUPUK SEMANGAT SOLIDARITAS KOMUNITAS PEREMPUAN”

Yayasan Karya Sosisla Pancur Kasih (YKSPK) dampingi RAT KSP Babane Tahun Buku 2023.
Menginjak usianya yang ke-12 tahun (2012-2024), KSP (Kelompok Simpan Pinjam) Babane tetap eksis dan berkembang. KSP Babane difasilitasi pembentuknya oleh Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) melalui Proram Pendidikan Kritis (PENTIS). YKSPK melakukan pendampingan kepada KSP Babane secara berkala selama 12 tahun. Kelompok ini dikelola dan dikembangkan oleh ibu-ibu, perempuan Kampung Doak, Desa Bilayuk, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabuaten Landak.
Kelompok perempuan dampingan YKSPK ini mengelola KSP dengan sejumlah dana yang mereka himpun bersama-sama secara mandiri dan dikembangkan dengan pola simpan pinjam. Pinjaman hanya diberikan kepada anggotanya saja dengan balas jasa 10% dari pinjaman yang dicairkan dan dikembalikan paling lama 12 bulan atau 1 (satu) tahun. Balas jasa pinjaman dibayar di depan, sekali saja atau dipotong dari pinjaman yang dicairkan.
Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban Pengurus pada RAT Tahun Buku 2023, tanggal 20 April 2024, KSP Babane memilik 20 orang anggota. Sebagian besar anggotanya adalah perempuan (sebanyak 13 orang) dan laki-laki 7 orang, dengan asset yang berhasil mereka bukukan selama 12 tahun sebesar 51 juta rupiah.
KSP Babane dalam memberikan pelayanan kepada anggotanya tidak semata-mata untuk menangguk keuntungan tetapi lebih kepada pelayanan solidaritas, saling tolong, bergotong-royong membantu sesama anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. Semangat kebersamaan diantara mereka lebih ditonjolkan guna meringankan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi, misalnya untuk membantu anggota berobat, membayar uang sekolah anak, membeli bibit tanaman dan modal usaha. Mereka tak lagi harus meminjam uang ke tetangga seperti sebelum ada kelompok. Melalui KSP ini mereka bisa pinjam dan mengembalikannya secara teratur untuk perkembangan dan keberlanjutan Usaha KSP Babane.
Proficiat KSP Babane
Pak Epi si Peternak Itik..

Panas terik terasa menyengat dikulit siang itu, padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul 09.45Wib. Saya bergegas menuju kediaman Pak Epi (39th), salah satu warga kampung Doak yang berhasil beternak itik bantuan Caritas Australia-PENTIS Pancur Kasih. Jarak rumah keluarga Pak Epi kurang lebih 100m dari tempat staff PENTIS menginap.
“Selamat siang nek, Pak Epi ada?” begitu ucapku kepada seorang nenek yang keluar diteras saatku tiba di depan kediaman Pak Epi sekeluarga. Sedikit ragu nenek menjawab “tidak tahu tadi pergi kemana”, namun tidak lama kami bertanya-tanya dimana keberadaan Pak Epi, sang empunya nama keluar menuju teras dan langsung mempersilahkan saya masuk kedalam rumah tersebut. Ternyata beliau baru selesai mandi, maklum baru pulang dari menoreh karet di hutan. Sebagian masyarakat kampung Doak, Dusun Danakng, Desa Bilayuk Kec. Mempawah Hulu, Kab. Landak, Kalbar, merupakan petani, Selain berladang, masyarakat juga beternak dan menoreh karet.
”Mari silahkan masuk” ucap Pak Epi dengan ramah, sembari mempersilahkan saya menuju ruang tengah rumah tersebut. Dalam hati rasanya saya merasa sangat dihormati dan seperti sudah kenal lama dengan keluarga tersebut. Saya sudah mengenal beliau ketika mengkoordinasikan pembagian bibit itik sehari sebelumnya di kediaman Pak Asmuni (tempat staff PENTIS menginap). Keesokan harinya, Minggu 16 Oktober 2011 saya berkesempatan untuk mendengar lebih banyak mengenai keberhasilan beliau dan keluarga dalam beternak itik. Bang Antimus (koordinator lapangan PENTIS) mengarahkan saya untuk mewawancarai Pak Epi. Membuka obrolan Pak Epi langsung menanyakan darimana asal saya, sayapun bercerita singkat mengenai asal dan kediaman saya serta menjelaskan kepada beliau mengenai keberadaan saya sebagai volunteer di PENTIS. Maksud kedatangan saya adalah untuk mengetahui bagamana cara Pak Epi berhasil memelihara itik, sehingga pengetahuan mengenai pemeliharaan itik ini bisa dibagikan kepada warga lain. Tidak lama kemudian, istri Pak Epi, We’ Epi (Mama Epi/38th) juga menghampiri kami, We’ Epi sangat ramah. Seingat saya, sejak kenal sehari sebelumnya, We’ Epi orang yang murah senyum.
Berdasarkan penuturan Pak Epi, ayah dari Epi (19th), Balon (17th), Yustina (15th) dan Riki (7th) tersebut, salah satu tips agar itik-itik bertumbuh besar dengan cepat adalah pemberian makanan yang tidak berhenti dalam waktu sehari(pukul 07.00Wib-19.00Wib). Tempat tinggal itik yang masih kecil juga harus kering dan terasa hangat pada malam hari. Oleh karena itu, setiap malam itik-itik tersebut tidur dalam wadah atau baskom yang dialasi kain. Pemberian pakan tidaklah sulit, pakan cukup dituangkan dalam wadah. Itik-itik tersebut bisa langsung memakan pakan semampu mreka dan jika pakan habis maka segera dituangkan pakan lagi. Penyediaan pakan yang selalu tersedia memudahkan itik utnuk makan dan selalu makan sehingga itik mudah bertumbuh besar, dan setiap waktu tidak kekurangan makanan. Pakan yang diberikan dapat dibeli di pasar, untuk anak itik dibelikan pakan itik yang halus, sedangkan itik dewasa diberi dedak (sisa padi yang sudah digiling) atau makanan lain yang direbus hingga lembut. Misalnya singkong, keladi dan sisa nasi. Khusus anak itik, untuk air minum disimpan di tempat yang berbeda dengan pakan. Wadah untuk menaruk pakan bisa berupa ceper besar maupun tempat khusus makanan ternak. Pemberian vitamin juga tidak lupa diberikan, untuk 1 liter air cukup diberikan 1 tutup botol vitamin khusus untuk ternak itik.
Usia bibit itik yang dibeli di pasar berkisar 2-3 mingguan, dengan bobot kurang lebih 500 gram. Sejak pembagian itik, bulan Maret 2011 yang lalu hanya keluarga Pak Epi yang berhasil memelihara hampir semua itik yang diberikan PENTIS dari 15 KK dikampung Doak yang mendapat bagian bibit itik tersebut. Dari 10 ekor itik yang diberikan, 1 ekor itik mati karena dimakan oleh ternak lain yaitu babi. Sisanya kini sudah besar dengan bobot kurang lebih 2 Kg per ekor dengan usia kurang lebih 7 bulan. Bahkan Pak Epi juga membeli bibit itik tambahan sebanyak 10 ekor bulan Mei 2011, dan sekarang itik-itik tersebut juga sama besar dengan itik yang diberikan PENTIS. Hingga kini itik-itik tersebut berjumlah 19 ekor. Setiap anggota keluarga berkontribusi dan saling mengingatkan untuk memberikan makan dan merawat itik-itik tersebut. Selain Pak Epi, ada juga istrinya We’ Epi, anak-anaknya bahkan Ibu Mertuanya (We’ Galetek (60th)) yang memelihara, memberi dan memasak makanan untuk itik-itik tersebut.
Untuk pemeliharaan awal itik-itik tersebut, keluarga pak Epi mengorbankan ruang dapur yang berlantai tanah yang kering. Hal tersebut dikarenakan kandang itik yang berada dibawah rumah sedikit becek, maka ruang dapur terpaksa terkesan jorok. Namun semua anggota keluarga menerima dan merawat itik dengan sangat baik. Ketika malam hari, anak ketiga keluarga ini yaitu Yustina membantu orang tuanya untuk memasukkan anak-anak itik kedalam baskom yang baralaskan kain. Kini itik dewasa sudah ditempatkan kedalam kandang di bawah rumah kediaman keluarga ini, di belakang rumah terdapat kolam berlumpur yang dangkal untuk itik berenang.
Dalam memelihara itik, juga terdapat beberapa kendala. Salah satunya yaitu untuk pembelian pakan yang cukup jauh dari pasar. Manfaat yang diterima juga dirasakan Pak Epi dan keluarga, yaitu untuk kebutuhan protein telur sehari-hari bisa diperoleh dari telur itik yang dihasilkan setiap pagi. Saat ini itik yang sudah menghasilkan telur berjumlah 2 ekor dari 9 ekor betina, setiap hari masing-masing menghasilkan 1 butir telur. Jadi ada 2 butir, bahkan kadang-kadang 3 butir telur dalam satu hari. Kedepan Pak Epi berharap itik-itik tersebut dapat berkembang biak, sehingga bisa menjadi sumber ekonomi keluarga. Dimana telur itik bisa dijual, begitu juga dengan itik-itik dewasa. Bahkan We’ Epi berharap kedepan keluarga ini bisa menyediakan bibit itik untuk dijual. Untuk itu pada tanggal Oktober 2011, Pak Epi membeli lagi bibit itik. Keluarga ini cukup serius dalam beternak, hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya jenis ternak yang dipelihara. Ternak tersebut yaitu ayam dan babi.
Sedikit banyak pengetahuan mengenai beternak itik berdasarkan pengalaman keluarga Pak Epi telah saya temukan, hari semakin siang tidak terasa saya sudah satu jam lebih berbincang-bincang dengan keluarga ini. Saya sempat melihat anak Pak Epi yaitu Balon mencetak karet yang telah ditoreh, dicetak berbentuk persegi panjang. Sayapun pamit pulang, tidak lupa ucapan terimakasih saya haturkan atas kesediaan keluarga Pak Epi berbagi pengalaman dengan saya. Pak Epi juga mengatakan jika ada warga sekitar Doak yang ingin bertanya mengenai cara memelihara itik, beliau bersedia membagi pengalamannya. Bahkan Pak Epi juga bersedia menampung itik-itik yang masih kecil, yang sudah disediakan PENTIS pada tanggal 15 Oktober 2011, untuk dibagikan kepada 25 KK yang belum mendapat pembagian itik pada bulan Maret yang lalu. Beliau juga menawarkan dalam rapat sehari sebelumnya, jika ada warga yang belum bisa membawa itik-itik tersebut kerumah masing-masing maka Pak Epi bersedia memelihara sementara waktu hingga warga siap untuk memelihara sendiri. Namun dengan catatan warga bersedia menyumbang untuk membeli pakan itik. Tida lupa Pak Epi dan keluarga juga mengucapkan terimakasih kepada PENTIS atas kerjasama selama ini, PENTIS juga yang telah memilih Pak Epi untuk diikut sertakan dalam penyuluhan pertanian di Banten pada tahun 200.. yang lalu.
Begitulah kisah yang saya dapatkan dari keluarga Pak Epi, semoga keluarga ini bisa menjadi teladan bagi warga sekitar Doak untuk membudidayakan itik. Hal utama bagi masyarakat Doak diharapkan mampu mengelola SDA yang ada dengan baik, ramah lingkungan sebagai wujud syukur atas berkas Jubata (Tuhan, red). Selain itu, petani juga memiliki sumber penghasilan lain dengan beternak dan berkebun disekitar rumah, bisa memberdayakan kehidupan keluarga dan sesama. Disisi Adanya peternakan itik dapat menjadi sarana untuk memajukan kehidupan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan protein keluarga warga Doak sendiri. Semoga segala sesuatu yang baik dari Caritas Australia-PENTIS Pancur Kasih, keluarga Pak Epi dan Masyrakat Doak khususnya, selalu diberkati oleh Sang Empunya kehidupan.
,,,,,,,,,Salam pemberdayaan,,,,,,,,
Oktober 2011
Antimus Lihan
Pendirian Jaringan Perempuan Adat Kalimantan (JPAK)

PERTEMUAN PEREMPUAN ADAT KALIMANTAN
Tanpa terasa, pendampingan dan advokasi untuk isu perempuan adat yang telah dilakukan secara fokus dan intensif, melalui Divisi Pemberdayaan Perempuan dan Anak sejak 2013 mulai menampakkan hasil. Walaupun kegiatan pendampingan terhadap perempuan adat sendiri sudah ada sejak 2010 di Kabupaten Landak. Setelah 10 tahun berlalu, dan divisi ini juga telah bertransformasi menjadi salah satu unit pengembangan yaitu Pusat Pendidikan, Penelitian dan Advokasi Perempuan Adat Kalimantan atau Kalimantan Indigenous Women of Education, Research and Advocacy (KIWERA).
Berbagai program telah dilakukan oleh unit ini, antara lain peningkatan kapasitas perempuan, pendampingan dan advokasi untuk isu perempuan adat, penelitian perempuan adat, dan satu program yang dikenal dan intensif dilakukan adalah Sekolah Perempuan Adat (SPA). Program SPA ini sendiri masih berlangsung sampai dengan saat ini, dengan melibatkan kurang lebih 500 perempuan penerima manfaat langsung, tersebar di 12 komunitas adat dari 6 kabupaten meliputi Kabupaten Sanggau, Landak, Ketapang, Melawi, Bengkayang dan Sintang. Program SPA ini sendiri dilakukan sebagai bentuk atas refleksi panjang perjalanan pendampingan CSO di komunitas adat khususnya dalam lingkup Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih. Lembaga yang melakukan kolaborasi bersama YKSPK dalam pendampingan terhadap perempuan adat antara lain Institut Dayakologi (Sanggau dan Ketapang), Perkumpulan Pengelolaan Sumber Daya Alam – PPSDAK (Ketapang), Lembaga Bela Banua Talino (Melawi), CU Filosofi Petani Pancur Kasih (Sanggau, Bengkayang, Melawi, Landak), CU Canaga Antutn (Ketapang), Gerakan Aliansi Masyarakat Adat Laman – Canaga Antutn (Ketapang), dan Walhi Kalimantan Barat (Sintang dan Bengkayang).
Perempuan adat mesti menjadi aktor utama dan tidak lagi hanya menjadi penonton. Perempuan mesti dilibatkan penuh dalam proses pengambilan keputusan terhadap pengelolaan hutan dan lahan, dimana justru perempuan lah yang paling banyak terlibat. SPA ini menjadi tempat belajar non formal bagi perempuan di komunitas adat sebagai pemenuhan hak perempuan atas pendidikan yang layak. Tujuan SPA sebagai wadah edukasi di tingkat akar rumput untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan adat. Melalui SPA ini, perempuan meningkat rasa percaya dirinya bahwa mereka sebenarnya memiliki pengetahuan lokal yang terbukti secara turun temurun dalam mengelola hutan dan lahan secara adil dan berkelanjutan. Pengetahuan yang perempuan miliki ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi ekonomi alternatif melalui berbagai produk pertanian, peternakan, perkebunan, maupun hasil hutan non kayu yang berkelanjutan bagi komunitasnya. Dan yang paling penting adalah melalui SPA dan berbagai aktivitasnya menjadi sarana pembelajaran dan bentuk praktek perempuan adat sebagai upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan bersama kelompok perempuan dan masyarakat di wilayah dampingan pada akhir program, ternyata SPA ini memberikan manfaat yang luar biasa dalam mendorong partisipasi aktif perempuan adat terlibat di ruang publik, serta mampu membawa suara suara perempuan yang dulu tak terdengar khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Dari hasil kegiatan pemberdayaan perempuan adat yang diisiasi oleh YKSPK melalui berbagai program nya telah melahirkan 13 organisasi lokal perempuan adat yang terdiri atas :
-
- Organisasi lokal perempuan adat “Pitn Tae Kanak”, berpusat di Kampung Tae, Desa Tae (Komunitas Adat Tae).
- Organisasi lokal perempuan adat “Pitn Tumpai”, berpusat di Kampung Bangkan, Desa Tae (Komunitas Adat Tae).
- Organisasi lokal perempuan adat “Nyai Pet Sese”, berpusat di Kampung Mak Ijing, Desa Tae (Komunitas Adat Tae).
- Organisasi lokal perempuan adat “Muan Kalos”, berpusat di Kampung Teradak, Desa Tae (Komunitas Adat Tae).
- Organisasi lokal perempuan adat “Mawang Muan Pan’n”, berpusat di Kampung Semangkar, Desa Tae (Komunitas Adat Tae).
- Organisasi lokal perempuan adat “Pitn Muan Kayuh”, berpusat di Kampung Padang, Desa Tae (Komunitas Adat Tae).
- Organisasi lokal perempuan adat “Dayang Bidayuh Mengkat Bauh”, berpusat di Kampung Segumon, Desa Lubuk Sabuk (Komunitas Adat Sisang dan Bi Somu).
- Organisasi lokal perempuan adat “Kumang Seranta”, berpusat di Kampung Guna Baner, Desa Sungai Tekam (Komunitas Adat Iban Sebaruk).
- Organisasi lokal perempuan adat “Dayakng Senta”, berpusat di Desa Menyumbung, Kecamatan Hulu Sungai, Ketapang (Komunitas Adat Krio)
- Organisasi lokal perempuan adat “Sungai Mehola Bangis.”, berpusat di Kampung Mehola Bangis, Kabupaten Melawi (Komunitas Ransa)
- Organisasi lokal perempuan adat “Rimok Laman Angus”, berpusat di Kampung Pondok Bayan, Kabupaten Melawi (Komunitas Ransa)
- Organisasi lokal perempuan adat “Ne Angar”, berpusat di Kampung Pelanjau, Desa Caokng, Kecamatan Mempawah Hulu, Landak
- Koperasi Simpan Pinjam Perempuan “Babane”, berpusat di Kampung Doak, Desa Bilayuk, Kecamatan Mempawah Hulu, Kabupaten (Komunitas Adat Kanayatn).
Selain organisasi yang sudah terbentuk di atas ada juga organisasi atau kelompok yang dibentuk oleh lembaga mitra antara lain “Inuk Inuk Beteras” (Walhi Kalbar) dan kelompok perempuan adat komunitas Kendawangan dan Jalai di Ketapang (Institut Dayakologi) yang bekerja sama dengan YKSPK dalam melakukan peningkatan kapasitasnya.
Dalam rangka untuk meningkatkan kapasitas dan membangun gerakan yang lebih besar diantara kelompok perempuan adat yang tekah difasilitasi, maka YKSPK melaksanakan kegiatan Pertemuan Perempuan Adat Kalimantan pada tanggal 2 -3 Desember 2022 di Pontianak. Kegiatan ini menghadirkan 25 orang perempuan adat yang mewakili berbagai orgnaisasi lokal perempuan adat yang terbentuk dari 12 komunitas adat di enam kabupaten Kalimantan Barat.
Dalam kegiatan yang mempertemukan para kader pemimpin Perempuan Adat sebagai penerima manfaat langsung pendampingan yang dilakukan oleh YKSPK bersama mitra kolaborasinya ini, juga sebagai bentuk apreasiasi dan menemukan wadah untuk membangun gerakan Perempuan Adat Kalimantan. Kegiatan ini juga digunakan sebagai wadah dan ruang dialog bagi Perempuan Adat yang berasal dari enam kabupaten di Kalimantan Barat menemukan strategi bersama untuk memperkuat gerakan yang sedang dibangun saat ini. Selain itu forum ini juga untuk melihat bersama sejauh mana sebenarnya peluang dan kesempatan perempuan untuk terlibat lebih jauh dalam mengakses manfaat program Perhutanan Sosial di komunitas dampingan saat ini. *twiscer
Semiloka Pendidikan Kader Muda Kalimantan
Babak Baru Kerja Penyadaran Kritis ala Pancur Kasih – Untuk Generasi Muda Kalimantan
Pontianak (02/2021) –Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK) melalui Divisi Pendidikan Kritis bersama para utusan dari lembaga mitra maupun jaringannya di Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih (GPPK), yakni WALHI KALBAR, Institut Dayakologi (ID), Gerakan Credit Union – Filosofi Petani Kalimantan (GCU-FPK), CU Gerakan Konsepsi Filosofi Petani Pancur Kasih (CUG KFPPK), Pemberdayaan Pengelolaan Sumber Daya Alam Kalimantan (PPSDAK) dan Lembaga Bela Banua Talino (LBBT) – menggelar Seminar dan Lokakarya Penyusunan Kurikulum Pendidikan Kader Muda Kalimantan Barat yang mengusung tema “Membangun Kader Muda Kalimantan Barat yang Kritis, Mandiri dan Bertanggungjawab”.
Dalam kesempatan sebagai narasumber seminar, Ansilla Twiseda Mecer – Ketua Pengurus YKSPK, menjelaskan bahwa kurikulum yang disusun bersama jaringannya ini sejatinya merupakan sintesa pengalaman YKSPK menggeluti dunia pendidikan formal maupun non-formal di Kalimantan Barat dan sekitarnya selama 40 tahun tepatnya pada 24 April 2021 mendatang. Ansilla menegaskan, memasuki dasawarsa yang keempat ini YKSPK semakin mempertajam visi misi dan implementasi Nilai-Nilai Pancur Kasih dalam bidang pendidikan sebagai core utama kegiatannya. Di bidang pendidikan formal, dengan pengintegrasian pendekatan Pendidikan Yang Membebaskan (PYM) dalam Kurikulum 2013 (K13) di Persekolahan Santo Fransiskus Asisi. Sejalan dengan itu, di bidang pendidikan alternatif bagi generasi muda Kalimantan dengan penyusunan kurikulum pendidikan alternatif yang memanfaatkan sinergisitas jaringan. Ke depan, strategi ini diharapkan menjadi pijakan bagi keberlanjutan-upaya maupun penyebarluasan-dampak dari kerja-kerja penyadaran kritis di tengah-tengah masyarakat luas.
Setelah dibuka dengan seminar, kegiatan yang berlangsung pada 2 – 5 Februari 2021 yang lalu di Pontianak ini dimulai dengan mengidentifikasi dan memetakan permasalahan yang dihadapi khususnya oleh generasi muda di Kalimantan sebagai pijakan untuk merumuskan secara detil perubahan yang dicita-citakan berdasarkan nilai-nilai utama kehidupan yang berdaulat – bermartabat – mandiri dan berkelanjutan. Selanjutnya memetakan berbagai kondisi, prasyarat, peran-peran kunci dan intervensi yang sesuai guna menjawab persoalan-persoalan yang mengemuka dalam konteks pendidikan generasi muda di Kalimantan pada umumnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Richardus Giring – Pengurus YKSPK, dan difasilitasi oleh Krissusandi Gunui’- Direktur Institut Dayakologi ini, berhasil merumuskan dua jenis kurikulum pendidikan alternatif yang masing-masing secara spesifik akan diterapkan untuk pendidikan bagi generasi muda urban dan generasi muda komunitas adat di Kalimantan. Sejalan dengan itu, disepakati pula terbentuknya Jaringan Pendidikan Kaum Muda Kalimantan sebagai wadah bagi aktivis pegiat pendidikan kritis sekaligus sebagai bagian dari strategi implementasi kurikulum ini ke depan.
Antusiasme dan kesan yang kuat diperoleh peserta kegiatan, satu diantaranya Alberd, Aktivis CUG-KFPPK yang merasa banyak mendapatkan pengalaman yang bermanfaat. “Saya belajar memahami bagaimana kita bisa memikirkan lewat diskusi kritis sebuah draf kurikulum pendidikan kader muda, dan pikiran-pikiran itu diambil dari banyak pemikir-pemikir yang ada di lingkungan Gerakan, yang tentunya peduli dengan nasib kaum muda ke depannya.”
Antimus Lihan – Koordinator Divisi Pendidikan Kritis YKSPK menyatakan, SEMILOKA Kurikulum Pendidikan Kader Muda Kalimantan merupakan sebuah babak baru bagi YKSPK untuk kembali proses penyiapan kader muda di masa depan yang mandiri, berkarakter dan bertanggungjawab. Diharapkan dengan adanya kurikulum pendidikan ini, langkah-langkah untuk membangun kader muda sebagaimana dimaksud akan semakin baik, terarah dan tersistem. “Kita mengharapkan kaum muda ke depan akan lebih proaktif, kritis dalam melihat persoalan-persoalan, masalah-masalah di lingkungan masyarakat. Kaum muda harus menjadi bagian dari solusi, bukan sebaliknya menjadi bagian dari masalah.
Krissusandi Gunui – fasilitator kegiatan berharap, bahwa; (1) kerja-kerja Pemberdayaan dan Pembebasan melalui Pendidikan Kritis yang transformatif dan kontekstual harus terus berjalan serta dikembangkan ke skala yang lebih luas dan holistik . Namun demikian misi “memanusiakan manusia” ini harus tetap sejalan dengan semangat, misi serta nilai-nilai Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih sehingga ini menjadi gerakan semua elemen gerakan, bukan lagi dalam ruang sektoral yang terbatas, dengan demikian maka manfaat serta hasilnya ke depan juga bisa lebih luas karena menjangkau banyak elemen di masyarakat; (2). Berharap kurikulum yang telah dibuat benar-benar membumi dan mengakomodir perubahan, sehingga pendidikan alternatif yang kita buat bagi kaum muda, benar-benar menarik, menantang dan berbeda dari segala jenis fasilitasi pendidikan formal atau alternatif lainnya di luar GPPK; (3). GPPK melalui YKSPK dan Jaringan Pendidikan Kaum Muda Kalimantan dapat solid dan kokoh dalam bekerja sama untuk menciptakan kaum muda yang Cerdas dan Kritis guna membawa perubahan menuju Kalimantan dan peradaban dunia yang lebih baik. “Semoga sukses dan terus semangat untuk kita semua,” pungkasnya.***EB – YKSPK
Panen Perdana SRI di Desa Kayu Tanam
PENTIS Pancur Kasih, September 2011
PANEN PERDANA SRI DI DESA KAYU TANAM
(oleh : antimus lihan)
Pada Mei 2011, PENTIS Pancur Kasih memulai pengembangan program pertanian Ramah Lingkungan dengan metode SRI Organik. Lokasi program di Dusun Pak Peleng, Desa Kayu Tanam, Kecamatan Mandor – Kabupaten Landak. Program ini merupakan kerjasama Pancur Kasih dengan Caritas Australia dan Kelompok Tani Dusun Pak Peleng. Untuk tenaga pendamping teknis, didatangkan langsung 2 orang ahli SRI Organik dari NOSC (Nusantara Organik SRI Center) Jakarta. Mereka bekerja bersama masyarakat/kelompok tani selama 4 bulan mulai dari persiapan lahan, pembuatan pupuk organic, penanaman & pemeliharaan hingga panen. Luas lahan demplot untuk ujicoba SRI organik yang dikerjakan secara bersama oleh anggota kelompok dan pendamping dari NOSC adalah 25 x 25 meter persegi. Selain di lahan demplot, petani anggota kelompok juga melakukan ujicoba tanam padi metode SRI organik di lahan masing-masing.
SRI (the system of rice intensification) adalah teknik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah, air dan unsur hara. Metode ini pertama kali ditemukan secara tidak disengaja di Madagaskar antara tahun 1983 – 1984 oleh Fr. Henri de Laulanie, SJ, seorang Pastor Jesuit asal Prancis yang lebih dari 30 tahun hidup bersama petani-petani di sana. Beberapa keuntungan pertanian cara SRI Organik ini adalah : hemat air, hemat biaya – hanya butuh benih 5 kg/ha, menggunakan pupuk organic – tidak perlu beli pupuk, hemat waktu – benih ditanam muda 5-12 hss, produksi meningkat hinga lebih dari 8 ton per hektar dan ramah lingkungan.
Panen perdana SRI Organik di Kayu Tanam dilaksanakan tanggal 19 September 2011. Dihadiri pejabat Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Landak, Pengurus Yayasan Pancur Kasih dan staf Pentis. Seluruh anggota kelompok tani juga hadir untuk melakukan panen bersama. Sebelum panen padi dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan upacara adat. Bagi orang Dayak, upacara adat merupakan keharusan untuk dilaksanakan sebagai sikap doa, hormat dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kemurahan rezeki, kebaikan dan kasih-Nya kepada manusia.
Hasil panen pada demplot pembelajaran seluas 25×25 m2 itu adalah 350 kg padi kering giling. Dengan hasil tersebut dapat diperhitungkan bahwa kalau 1 hektar lahan ditanam padi dengan metode SRI organik, maka akan menghasilkan paling kurang 5 ton (5.000 kg) padi per hektar.
atm 2011
KSP Babane Doak

KSP BABANE DOAK
(oleh: Antimus Lihan)
“Bulan lalu saya perlu uang untuk bayar buku paket, uang asrama dan SPP anak, tetapi sekarang saya belum punya uang. Mau pinjam tetangga tidak enak, karena mereka juga perlu uang”, demikian diungkapkan Ati (45th) salah seorang ibu-ibu di Kampung Sijarum, Kabupaten Landak. Keadaan sulit seperti ini sering dialami warga komunitas di kampung-ampung, terutama kaum ibu. Sumber penghasilan mereka yang terbatas, dan kadang kala hanya mengandalkan satu jenis sumber saja tentu tidak cukup untuk membiayai banyak keperluan. Apalagi ada keperluan-keperluan mendesak seperti keperluan anak sekolah, kondisi sakit dan perlu berobat sudah pasti menyulitkan.
Kondisi tersebut yang kemudian mendorong kaum perempuan, khususnya ibu-ibu di wilayah dampingan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih (YKSPK), Kabupaten Landak berinisiatif membentuk suatu wadah berkumpul yang mereka sebut Kelompok Simpan Pinjam (KSP). Wadah ini dibentuk dengan maksud untuk menanggulangi beberapa persoalan yang mereka hadapi tersebut. Utamanya adalah bagaimana mengatasi kesulitan uang ketika pada saat ada keperluan-keperluan mendesak yang tak terduga datang menghampiri, sementara tak punya tabungan uang apalagi menyimpan uang di rumah dalam jumlah yang cukup. Minta pinjaman uang ke tetangga juga tak mungkin karena mereka para tetangga pun tak memiliki uang di rumahnya. Persoalan keuangan seperti itu memang sering dirasakan kaum perempuan komunitas, utamanya ibu-ibu yang kegiatan sehari-harinya full mengurusi kehidupan domistik, rumah tangga.
Pilihan membentuk Kelompok Simpan Pinjam atau KSP adalah sebuah upaya kaum perempuan komunitas untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Dalam wadah KSP ini mereka tidak hanya bicara soal keuangan saja, mereka juga berbicara tentang berbagai hal pengalaman kehidupan di kampung, soal perekonomian atau bercerita tentang kegiatan berladang, bersawah, merencanakan kegiatan mencari sayur-mayur, rebung, umbut, kayu bakar di hutan dan sebagainya.
Salah satu KSP Perempuan yang terbentuk ketika itu dan masih aktif beraktivitas hingga tahun 2021 ini adalah Kelompok Simpan Pinjam Babane atau KSP BABANE. Kelompok ini terbentuk pada bulan Maret tahun 2012, sembilan tahun yang lalu oleh 13 orang perempuan di Kampung Doak, Desa Bilayuk, Kecamatan Mempawah Hulu Kabupaten Landak. BABANE yang dijadikan nama KSP ini merupakan nama sebuah sungai yang terletak di sekitar Kampung Doak. Sungai Babane merupakan induk dari dua cabang sungai yang mengalir hingga ke pemukiman penduduk di kampung Doak. Air Sungai Babane selalin dimanfaatkan untuk air bersih, juga untuk keperluan MCK (Mandi, Cuci dan Kakus), mengairi lahan pertanian/sawah dan keperluan untuk memandikan hewan ternak.
Menghimpun Modal Bersama
Saat awal terbentuk, KSP Babane yang beranggotakan 13 orang perempuan itu bersepakat mengumpulkan modal bersama. Mereka sepakat mengumpulkan modal uang pada tahap awal sebesar Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribus Rupiah) per orang. Namun tidak semua anggota kelompok memiliki uang sebesar itu, tetapi mereka tetap konsisten dengan kesepakatn awal dan berusaha mengumpulkannya walau dengan cara mencicil. Barulah pada akhir tahun 2012 semua anggota berhasil mengumpulkan modal sebesar Rp. 6.400.000,- (Enam Juta Empat Ratus Ribu Rupiah). Dengan penuh syukur mereka merasa senang bahwa dengan berkumpul, bersatu dan kompak mereka bisa menghimpun sejumlah uang sebagaimana kesepakatan awal.
Dengan modal yang berhasil mereka kumpulkan itu sungguh dapat membantu satu sama lain dengan cara meminjamkannya kepada anggota yang memerlukan. Tercatat pada akhir tahun 2012 uang yang telah dipinjamkan kepada anggota sebesar Rp. 6.190.000,- (Enam Juta Seratus Sembilan Puluh Ribu Rupiah). Pinjamanan yang diberikan itu disepakati berbunga 10% dari total yang dicairkan, dengan jangkan waktu pengembalian maksimal 12 bulan. Jika anggota meminjam Rp. 100.000,- (Sratus ribu rupiah), maka anggota wajib mengembalikan pokoknya sebesar Rp. 100.000,- (Sratus ribu rupiah) ditambah bunga sebesar Rp. 10.000,- atau jumlah total pokok plus bunga adalah Rp. 110.000,- (Seratus Sepuluh Ribu Rupiah). Bunga yang disetor dimaksudkan untuk membiayai keperluan-keperluan administrasi dan operasional Kelompok Simpan Pinjam.
Berkat kerja keras, kebersamaan dan kekompakan para anggotanya, KSP Babane dari tahun ke tahun terus berkembang baik anggota maupun modal/assetnya. Hingga Desember 2019 anggota KSP Babane sudah bertambah menjadi 21 orang, terdiri dari 15 orang perempuan dan 6 orang laki-laki. Total modal/asset yang berhasil dihimpun setelah 7 tahun sebesar Rp. 46.282.300,- (Empat puluh enam juta dua ratus delapan puluh dua juta tiga ratus rupiah). Dari total asset tersebut terdapat Simpanan Anggota sebesar Rp. 37.350.350,- (Tiga puluh tujuh juta tiga ratus lima puluh ribu tiga ratus rupiah) dan Pinjaman Anggota sebesar Rp. 39.354.300,- (Tiga puluh sembilan juta tiga ratus lima puluh empat ribu tiga ratus rupiah).
Kelompok Simpan Pinjam Babane atau KSP Babane meskipun bukan sebuah koperasi, namun kelompok ini tetap rutin mengadakan rapat anggota tahunan (RAT). Dalam RAT yang melibatkan seluruh anggota, pengurus, pengawas dan penasihat KSP, pertanggungjawaban pengurus dapat didengar dan dibahas secara bersama. Pemilihan pengurus dan pengawas dilakukan secara musyawarah mufakat. Demikian pula dengan pembuatan dan pembahasan kebijakan dan program kerja kelompok simpan pinjam. Melalui Rapat Anggota Tahunan para anggota dapat mengetahui kendala atau tantangan yang dihadapi, mendiskusikan rencana bersama, sekaligus bagaimana rencana yang disepakati di tahun sebelumnya dicapai. Hal terpenting dalam RAT juga adalah sebagai sarana memupuk rasa kekompakan, kebersamaan dan saling tolong antar sesama anggota dan masyarakat pada umumnya.
Semangat kebersamaan merupakan basis penting dalam pengelolaan keuangan kelompok simpan pinjam yang dilakukan secara mandiri ini. KSP Babane melayani anggotanya, mulai dari membantu meringankan beban biaya sekolah anak, pembelian alat-alat pertanian anggota hingga kebutuhan biaya yang sifatnya mendesak dengan model simpan pinjam. Kegunaan model simpan pinjam yang dipilih seperti dinyatakan Ibu Juini (37 th), yang juga anggota kelompok. “Di sini, dana yang dipinjam bisa dipakai untuk membantu biaya anak sekolah, juga untuk membeli alat pertanian. Selain itu, saat ada kondisi mendesak, KSP bisa dengan cepat membantu anggota. Selagi keuangan kelompok mencukupi, anggota tidak akan kesulitan dalam proses pinjaman darurat,” ujar Ibu Juini.
Saling Percaya dan Konsisten
KSP Babane memegang teguh cita-cita awal bersama. Cita-cita awal yakni menjadikan KSP Babane dengan asas kekeluargaan dan saling percaya supaya konsisten melayani anggota hingga mandiri dalam kebersamaan di tengah komunitasnya.
Dalam kegiatan sosial di komunitas kampung dan desa, kelompok ini tak luput dari perhitungan. Bernadeta (44 th), salah seorang perintis pembentukkan KSP Babane yang turut mengawal pertumbuhan kelompok ini hingga sekarang bisa diteladani. Karena keaktifannya, ibu dari 3 putri ini dipilih untuk menjadi kader Posyandu mewakili kampungnya. Ibu rumah tangga dan petani perempuan ini selalu bersemangat dan aktif di setiap kegiatan di kampung maupun desa. KSP Babane pantas bangga karena memiliki sosok Bernadeta yang punya semangat belajar tinggi ini. Dia juga dipercaya oleh anggota untuk menjadi pencatat transaksi keuangan dan menyusun laporan.
Semangat berpartisipasi dan beremansipasi dalam berbagai forum pengambilan keputusan di tingkat kampung di kalangan ibu-ibu di Doak telah tumbuh dengan baik. Bernadeta mengatakan bahwa sebelum bergabung di KSP, rata-rata ibu-ibu malu duduk di kurisi depan saat ada kegiatan rapat atau pertemuan. Mereka banyak memilih duduk di belakang, atau memilih membuat kopi dan makan ringan di belakang saja. Tapi sekarang, ibu-ibu di Doak sudah tidak ragu lagi duduk di kursi depan dalam tiap pertemuan. “Ibu-ibu di sini juga sudah bisa dan berani mengungkapkan pendapatnya di forum rapat-rapat. Ini keberhasilan tersendiri buat kelompok simpan pinjam perempuan di Doak ini,” tutur Bernadeta bangga.
Wadah Berdiskusi
Rapat Anggota Tahunan mencatat bahwa kelompok simpan pinjam ini telah memberikan manfaat sebagai wadah berorganisasi dan berdiskusi selain memberikan keuntungan dari segi pengelolaan penghasilan anggotanya yang notabene perempuan petani sawah, kebun dan menoreh getah karet. Kelompok simpan pinjam ini semakin penting, terlebih karena sebagian wilayah kampung Doak telah berubah status menjadi HGU sehingga telah ditanami kelapa sawit yang mengakibatkan akses warga terhadap tanah, hutan dan lahan semakin kecil.
Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sajak awal tahun 2020 yang lalu telah membatasi interaksi antar warga Doak yang berpenduduk 80 kepala keluarga ini, termasuk kegiatan KSP Babane. Meskipun demikian, semangat kebersamaan dalam kelompok simpan pinjam perempuan ini tidak pupus; tetap optimistis. Semangat dan konsistensi kelompok perempuan Doak itu adalah kekuatan. Penuh motivasi dan antusiasme tinggi. Itulah modal moral dan sosial yang sangat berharga untuk pengembangan KSP Babane ke depannya……..(Antimus_Lihan)
